Mentari belum sepenuhnya terbit ketika halaman depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) mulai dipenuhi barisan rapi. Pukul 05.00 WIB, Jumat pagi (16/1), para pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) ke-55 dan Koordinator Gerakan Pramuka (KGP) Gugus Depan 15.089 sudah berdiri tegak dengan seragam terbaik mereka. Bukan sekadar berfoto—pagi itu adalah penanda sejarah, sekaligus garis akhir masa khidmah.
Tahun ini, ada yang berbeda. New BPPM yang hampir rampung mengubah sudut pengambilan gambar. Namun alih-alih menjadi kendala, perubahan itu justru menghadirkan perspektif baru—lebih luas, lebih megah, dan terasa lebih representatif. Dari sinilah lahir dokumentasi yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kuat bercerita.
Persiapan telah dimatangkan sejak beberapa hari sebelumnya. Tata letak, alur kegiatan, hingga detail kecil disusun dengan cermat. Keunikan tersendiri muncul lewat koreografi barisan yang membentuk tulisan “OPPM LX”—sebuah simbol kebanggaan, kerja kolektif, dan jejak kepemimpinan yang tak akan terlupa.
Suasana kian hangat ketika Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, hadir dalam sesi perfotoan. Kehadirannya menjadikan momen ini terasa istimewa: akrab namun tetap khidmat. Sesi demi sesi pun berjalan berurutan—formasi utama, koreografi OPPM, perfotoan KGP di depan Masjid Jami’, hingga foto per-bagian kepengurusan yang sarat makna kebersamaan.
Usai bidikan terakhir, para pimpinan dan jajaran menuju Balai Pertemuan Aligarh untuk coffee break. Di sana, percakapan mengalir ringan, silaturahmi terjalin hangat—sebuah penutup yang manis setelah pagi yang penuh makna.
Lebih dari sekadar dokumentasi, perfotoan ini adalah arsip perjalanan. Ia merekam tanggung jawab yang ditunaikan, kepemimpinan yang dijalani, dan kebersamaan yang dirawat. Bagi OPPM dan KGP, foto-foto itu kelak akan berbicara—tentang amanah, pengabdian, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Sumber: gontor.ac.id
